Penyakit Kolera

Penyakit Kolera adalah penyakit infeksi akut yang mengakibatkan diare tanpa rasa sakit pada manusia. Beberapa individu memiliki jumlah berlebihan yang terkena diare dan mengembangkan dehidrasi yang begitu parah dapat menyebabkan kematian. Kebanyakan orang yang terkena penyakit ini adalah dengan menelan organisme melalui sumber-sumber makanan atau air yang terkontamisasi dengan V. cholerae. Meskipun gejalanya terbilang ringan, yakni sekitar 5% - 10% dari sebelumnya orang yang sehat akan mengembangkan diare berlebihan dalam waktu sekitar satu sampai lima hari setelah menelan bakteri. Penyakit berat membutuhkan perawatan medis yang lebih serius.

Kolera merupakan penyakit yang merusak dan juga terkadang mematikan, dengan gejala muntah dan diare berair intens sebesar-besarnya sehingga menyebabkan dehidrasi yang dapat berakibat fatal ( terkecuali apabila dengan penanganan medis yang lebih serius ).
Pandemi pertama tepatnya pada tahun 1816-1826, mulanya wabah ini terbatas hanya pada anak di daerah benua india, mulai dari Bengal, dan menyebar ke luar india pada tahun 1820. Penyebarannya sampai ke Tiongkok dan Laut Kaspia sebelum akhirnya berkurang.

Pandemi kedua yakni pada tahun 1829-1851 sudah mencapai ke Eropa, London pada tahun 1832, Ontario Kanada dan New York pada tahun yang sama, dan pesisir Pasifik Amerika Utara pada tahun 1834. Pandemi Ketiga pada tahun 1852-1860, terutama menyerang daerah Rusia, yang memakan korban hingga lebih dari satu juta jiwa. Pandemi keempat pada tahun 1863-1875, penyebaran yang paling parah menyerang di Benua Eropa dan Afrika.
Pandemi kelima pada tahun 1899-1923, pada saat itu, kesehatan dibenua eropa sudah ada kemajuan sehingga menjadi lebih sedikit menyebar ke benua eropa. Namun sebaliknya, pada tahun tersebut Rusia kembali terserang dengan sangat parah. Pandemi keenam dimulai di Indonesia pada tahun 1961, yang disebut "Kolera El Tor" , sesuai dengan nama galur bakteri penyebabnya, dan mencapai Bangladesh pada tahun 1963, Idia pada tahun 1964 dan Uni Soviet pada tahun 1966.

Kolera ditemukan pada tahun 1883 karena inveksi Vibrio cholarae, bakteri berbentuk koma. Penemuan ini awalnya ditemukan oleh bakteriologi Robert Koch (Jerman, 1843-1910). Sebagai ketua komisi, Koch pergi ke mesir dimana epidemi sedang berlangsung dan disana ia menemukan beberapa jenis bakteri di usus yang menyebabkan orang mati karena penyakit kolera, tetapi ia tidak dapat mengisolasi organisme atau hewan yang terinfeksi.
Kemudian pada tahun 1883 Koch pergi ke India, dimana ia menulis bahwa ia berhasil mengisolasi bakteri basil seperti berbentuk koma. Ia menemukan bahwa bakteri ini tumbuh pada pakaian kotor lembab dan didalam kotoran pasien yang terkena penyakit tersebut.

Penanganan Darurat bagi Penderita Kolera
   
Penyakit kolera ini penyebabnya adalah bakteri yang dikenal dengan nama Vibrio cholera atau biasa disingkat V.cholera. Bakteri ini adalah noda Gram-negatif dan memiliki flagel (panjang, lonjong, bagian proyeksi) untuk motilitas dan pili jaringan. Meskipun ada banyak serotipe V.cholerae yang dapat menghasilkan gejala-gejala kolera, penyebab kolera yang memberi gejala yang paling parah kolera adalah kelompok 001 dan 0139.

Kolera dapat menyebar sebagai penyakit yang endemik, epidermik atau pandermik. Meskipun sudah banyak penelitian berskala besar dilakukan, namun kondisi penyakit ini tetap menjadi suatu tatangan bagi dunia kedokteran modern.

Bila dalam anggota keluarga anda ada yang terkena kolera, sebaiknya di isolasi dan secepatnya mendapatkan pengobatan. Benda yang tercemar muntahan  atau tinja penderita harus di sterilisasi, sehingga lalat (vector) penular lainya segera diberantas. Pemberian vaksinasi kolera dapat melindungi orang yang kontak langsung dengan penderita. Karena pada orang yang feacesnya ditemukan bakteri kolera, mungkin selama 1-2 minggu belum merasakan keluhan yang berarti. Tetapi saat terjadinya serangan infeksi, maka tiba-tiba mengalami diare dan muntah dengan kondisi cukup serius sebagai serangan akut yang menyebabkan samarnya jenis diare yang dialamu.
  
Akan tetapi pada penderita penyakit kolera ada beberapa tanda dan gejala yang di tampakkan, diantaranya:

1. Diare yang encer dan berlimpah tanpa didahului dengan rasa mulas atau tenesmus
2. Feaces atau kotoran (tinja) yang semula berwarna dan berbau berubah menjadi cairan putih keruh ( seperti air cucian beras) tanpa bau busuk ataupun amis, tetapi seperti manis yang menusuk.
3. Feaces (cairan) yang menyerupai air cucian beras ini bila diendapkan akan mengeluarkan gumpalan-gumpalan putih.
4. Diare terjadi berkali-kali dan dalam jumlah yang cukup banyak.
5. Terjadinya muntah setelah didahului  dengan diare yang terjadi, penderita tidaklah merasakan mual sebelumnya.
6. Kejang otot perut bisa juga dirasakan dengan disertai nyeri yang hebat
Banyaknya cairan yang keluar akan menyebabkan terjadinya dehidrasi dengan tanda-tandanya seperti; detak jantung cepat, mulut kering, lemah fisik, mata cekung, hypotensi, dan lain-lain yang bila tidak segera mendapatkan penanganan pengganti cairan tubuh yang hilang dapat mengakibatkan kematian.

Penderita yang mengalami penyakit kolera harus segera mendapatkan penanganan segera. Yaitu dengan memberikan penggati cairan tubuh yang hilang sebagai langkah awal. Pemberian cairan dengan cara infus/drip adalah yang paling tepat bagi penderita yang banyak kehilangan cairan, baik melalui diare atau muntah. Selanjutnya adalah pengobatan infeksi yang terjadi yaitu dengan memberikan antibiotik atau antimikrobial seperti Tetrasiklin, Doxycycline atau golonganVibramicyn . Pengobatan antibiotik ini dalam waktu 48 jam dapat menghentikan diare yang terjadi.
Pada kondisi tertentu, terutama di wilayah yang terserang wabah penyakit kolera, pemberian makanan atau cairan dilakukan dengan jalan memasukan selang dari hidung ke lambung (sonde). Sebanyak 50% kasus kolera yang tergolong berat tidak dapat diatasi (meninggal dunia), Sedangkan sejumlah 1% penderita kolera yang mendapat perhatian kurang akan meninggal dunia.